Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad mengungkapkan proyek ini diikuti oleh delapan bank yang mewakili 46 persen aset perbankan nasional. Kedelapan bank tersebut antara lain PT Bank Artha Graha Internasional Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank BRI Syariah, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Muamalat Indonesia, dan PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk.
“Nanti akan diikuti gelombang berikutnya oleh lembaga-lembaga keuangan lainnya yang juga akan bersama-sama mengimplementasikan sustainable finance (pembiayaan berkelanjutan),” tutur Muliaman di Jakarta, Senin (23/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Perusahaan yang merusak lingkungan tentunya akan sulit mendapatkan pembiayaan,” ujarnya.
“Selain menjadikan dirinya (bank) sebagai bagian dari industri perbankan yang berkelanjutan, bank juga akan memiiki kekuatan untuk mendorong perusahaan kliennya menerapkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola ini dalam proses bisnis mereka (perusahaan klien) secara menyeluruh,” ujar Efransjah.
Selanjutnya, OJK bersama WWF akan mendampingi kedelapan bank pelopor untuk mulai menerapkan keuangan berkelanjutan secara sistematis, salah satunya pada sektor kelapa sawit. Proyek ini akan berjalan secara 1,5 tahun yang dimulai pada Januari 2016.
Ditemui terpisah, Direktur Utama BRI Asmawi Syam mengungkapkan program ini merupakan komitmen BRI dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Ke depannya, BRI akan terus menginformasikan pentingnya aspek lingkungan dalam mengelola usaha kepada nasabahnya yang sebagian besar berasal dari sektor UMKM.