Presiden Direktur UOI Biswaranjan Sen mengatakan uang tersebut akan digunakan untuk membeli tambahan lahan sebesar 9 hektare dan peralatannya sehingga membuat total lahan terpakai menjadi 27 hektare dan kapasitas produksi menjadi 500 ribu ton per tahun, atau naik 92,3 persen dari kapasitas saat ini sebesar 260 ribu ton per tahun.
"Kami harapkan investasi ini bisa digelontorkan dalam jangka waktu 2 hingga 3 tahun mendatang. Bahkan kalau fasilitasnya mendukung, kita bisa saja investasi tiga kali lipat dibanding investasi itu di tahun 2020," ujar Sen, Kamis (26/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Sen mengatakan kalau pasokan listrik yang stabil merupakan fasilitas yang paling dibutuhkan karena biaya produksi perusahaan akan membengkak jika listrik mati-padam terus menerus. Pasalnya, jika listrik padam, perusahaan perlu menyalakan mesin dari awal lagi dan hal itu akan menghambat beberapa kegiatan produksi.
Ia menambahkan kalau selama ini perusahaannya selalu mengalami 3 hingga 4 kali pemadaman listrik dalam sehari, namun ia tak memberitahu berapa besar potensi kerugian (potential loss) perusahaan tiap harinya akibat kejadian ini. Kalau masalah byar pet listrik ini tak terselesaikan, maka percuma saja perusahaan menambah modal demi membeli tambahan peralatan.
Jika pabrik jadi melakukan ekspansi, maka perusahaan membutuhkan listrik sebesar 15 Megawatt (MW). Saat ini, Sei Mangkei memiliki listrik berkapasitas 5,68 MW, atau hanya memenuhi 37,86 persen dari kebutuhan perseroan.
"Kami berharap masalah ini segera terselesaikan karena kami memang berkomitmen untuk berinvestasi. Karena pabrik Sei Mangkei ini adalah salah satu pabrik oleochemical kami yang paling penting," tegasnya.
Pada tahap pertama, perusahaan telah menggelontorkan investasi sebesar Rp 2 triliun. Pabrik ini diharapkan mampu menyerap 600 tenaga kerja langsung dan lima ribu tenaga kerja tidak langsung.