Direktur Pemasaran dan Purnajual HPM, Jonfis Fandy berharap dengan penetapan harga ini pihaknya bisa mengisi pangsa pasar yang kosong di antara Mobilio yang memiliki harga di bawah Rp 200 juta dan juga Honda HR-V yang berharga di atas Rp 300 juta ke atas. Utamanya, adalah kelompok usia produktif berusia 25 hingga 45 tahun yang sudah mapan.
"Dengan meluncurkan BR-V, kami mau mengambil pasar family man yang memang membutuhkan 7-seated car, tapi bukan pembeli tipe mobil pertama. Makanya kami pasang harga di antara Low Multi Purpose Vehicle (MPV) dan juga Low Sport Utilty Vehicle (SUV)," ujarnya di Jakarta, Rabu (2/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seluruh mesin mobil tersebut berkapasitas 1,5 liter dengan mesin I-VTEC. Jonfis mengaku pihaknya tak mau memroduksi mobil dengan kapasitas 1,8 liter karena akan semakin meningkatkan biaya produksi dan malah menbuat harga BR-V lebih mahal dari seharusnya.
Ia juga tak khawatir kalau pembelian Honda Jazz akan turun mengingat selisih harganya yang hampir sama dengan BR-V. Ia masih yakin dengan kekuatan preferensi konsumen, dimana konsumen akan membeli mobil sesuai dengan selera dan kebutuhannya.
"Yang kami lakukan dengan BR-V adalah menciptakan pasar baru, bukan mengganti pasar yang sudah ada. Malah sejak BR-V diluncurkan, penjualan Jazz terus meningkat. Artinya memang kehadiran BR-V ini tak akan menggerus pasar Jazz," ujarnya.
Honda BR-V sendiri merupakan jenis mobil crossover, dimana tampilan luar mobil seperti tipe Low SUV namun memiliki fungsi serbaguna layaknya Low MPV. Kendati berjenis crossover, namun HPM sendiri mengategorikan mobil ini sebagai mobil Low SUV. (gir/gir)