“Kalau dibilang pilkada serentak harusnya orang di Pasar Senen ini sudah sibuk semua, tapi biasa-biasa saja,” kata Mawardi salah satu pemilik toko di kompleks Pasar Senen saat ditemui CNNIndonesia.com di tokonya.
Senada dengan Mawardi, Yayan Hermanto pedagang atribut kampanye juga menilai berkah dari ajang Pilkada tahun ini tidak sebesar perkiraannya. Dia mengklaim meski digelar serentak, peningkatan omzet yang dikantonginya dari Pilkada tahun ini hanya seperempat dari perolehannya pada masa Pilkada periode sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terbentur Aturan
Dalam beleid tersebut, KPU dan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Provinsi/Kabupaten/Kota bertugas untuk memfasilitasi alat peraga kampanye, iklan kampanye , dan sebagian bahan kampanye calon kepala daerah menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terkait.
Namun demikian, tim kampanye tetap diperbolehkan mencetak bahan kampanye lain seperti kaos, stiker, bolpen, dengan nilai satuan tidak boleh melebihi Rp 25 ribu.
Akibatnya, banyak pasangan calon Gubernur, Bupati, dan Walikota yang mengurangi pemesanan bahan kampanye tambahan. Tak ayal, omzet pedagang pun tidak melonjak sesuai harapan.
Andre menyebutkan tokonya masih mendapatkan sejumlah pesanan atribut kampanye dalam jumlah besar seperti kaos dari berbagai calon kepala daerah. Namun demikian, tanpa bersedia menyebutkan nominal, diakuinya jumlahnya tidak sesuai target.
“Jumlah (omzet)-nya lumayanlah cuma tidak mencapai target,” kata Andre.
Lebih lanjut, berdasarkan pengamatan Andre, faktor Pilkada serentak tidak menjamin omzet yang diterima pedagang akan lebih besar.
“Secara umum, sangat di luar dugaan, yang tadinya kami pikir akan kewalahan dengan pengadaan barangnya ternyata kewalahan nunggu order yang tidak datang-datang,” keluhnya. (gen)