“Kami selalu memantau perkembangan karena harga produk selalu tergantung variabel dari harga komoditas sendiri dan foreign exchange (nilai tukar mata uang). Kami pantau terus. Kapan dan berapa penaikannya belum tahu,” ujar Sekretaris Perusahaan Unilever Sancoyo Antarikso usai Rapat Umum Pemegang Saham di Crowne Plaza, Jakarta, Selasa (15/12).
Seperti diketahui, Unilever Indonesia telah mengerek harga jual produknya hingga tiga kali sampai Oktober lalu. Tercatat, sepanjang periode tersebut harga jual produk Unilever meningkat sampai 3,8 persen guna mempertahankan margin perseroan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sancoyo menambahkan, manajemen juga melihat berbagai efek dari kebijakan ekonomi global, salah satunya adalah rapat petinggi bank sentral AS (FOMC) dalam minggu ini. Kendati demikian, ia mengaku perseroan tetap menilai keadaan bakal positif dalam jangka panjang.
“Kami telah berada di Indonesia selama 82 tahun. Kami bukan pemain hit and run, tapi jangka panjang. Dinamika ini biasa dialami oleh perusahaan dan negara. Mid and long term masih sangat bullish, seperti jumlah penduduk yang muda, bonus demografi dan potensi tingkat konsumsi,” ujarnya.
Dari sisi kinerja, Unilever Indonesia mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 3,21 persen pada sembilan bulan pertama 2015 menjadi Rp 4,18 triliun dari Rp 4,05 triliun pada periode yang sama 2014.
Pertumbuhan kinerja Unilever tersebut ditopang dengan peningkatan penjualan pada sembilan bulan pertama 2015 sebesar 5,60 persen menjadi Rp 27,55 triliun dari capaian di periode yang sama 2014 senilai Rp 26,09 triliun.