Dalam rapat tersebut juga akan diputuskan apakah BI rate akan berubah atau tetap di level 7,5 persen.
Berbagai pendapat pun muncul sembari menunggu keputusan Gubernur BI Agus D.W. Martowardjojo dkk. Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Asmawi Syam misalnya, ia menyarankan BI untuk tetap menahan suku bunga acuannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut saya sih (BI Rate) tetap saja seperti sekarang ini. Karena kalau terjadi penurunan di sana (Amerika), terus kita terlalu cepat nanti tidak bagus, nanti dianggap panik," ujar Asmawi ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (17/12).
"Komoditas sekarang lagi turun itu diharapkan kemungkinan bisa rebound lagi, ekspor juga kembali meningkat, itu yang kita harapkan," katanya.
BEI Desak Penurunan BI Rate
Asmawi mengaku lega, kondisi likuiditas perbankan saat ini sudah mulai membaik akibat dampak dari kebijakan penurunan batas Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 0,5 persen yang sempat dilakukan oleh BI. Kondisi likuiditas yang baik ini dinilai memperkuat kondisi perbankan menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
"Kondisi likuiditas kemarin sudah agak longgar. Biarkan kita lihat dulu sebulan dua bulan ini," katanya.
Namun pendapat berbeda diutarakan oleh Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio. Ia berharap BI menurunkan tingkat suku bunga acuan untuk mendorong roda perekonomian dan berimbas ke perbaikan pasar modal.
“BI rate saya sih inginnya turun. Saya minta turun, supaya buat pasar modal bagus, dan investasi bagus,” ujar Tito beberapa waktu lalu.