Angka tersebut seharusnya bisa mencapai US$ 17,92 miliar, jika SKK Migas menyetujui seluruh usulan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dalam penyusunan Work Program and Budget (WP&B) 2016 sebesar US$ 17,92 miliar.
Namun Kepala Bagian Hubungan Masyarakat SKK Migas Elan Biantoro memiliki alasan kuat mengapa instansinya enggan menyetujui seluruh angka usulan WP&B 2016. Pasalnya dari rencana investasi 2015 yang mencapai US$ 18,8 miliar, KKKS diperkirakan hanya akan mengeluarkan investasi sebesar US$ 14,8 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Elan mengungkapkan tahun depan asumsi harga minyak hanya mencapai US$ 50 per barel atau turun dua kali lipat dari asumsi tahun ini sebesar US$ 105 per barel. Rendahnya harga minyak membuat sebagian besar KKKS enggan menghabiskan dana rencana investasinya, sehingga sampai akhir tahun realisasi penyerapan anggaran diperkirakan hanya sebesar 80 persen.
Meskipun anggaran WK eksploitasi tahun depan turun, Elan optimistis target lifiting produksi minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016 (APBN 2016) tetap bisa tercapai. Dalam APBN 2016 target lifting minyak tercatat 830 ribu barel per hari (bph) atau naik 5 ribu bph dari target APBNP 2015 sebesar 825 ribu bph.
“Target produksi naik karena kita tahu akan ada Banyu Urip yang membuat naik,” ujarnya.
Disebutkan Elan, produksi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) di Lapangan Banyu Urip tahun depan bisa mencapai 165 ribu bph. (gen)