"Kami tidak memikirkan merger yang kami pikirkan adalah sinergi," tutur Rini usai menghadiri peluncuran ATM Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) di Blok B Pasar Tanah Abang, Jakarta, kemarin.
Menurut Rini, kebutuhan akan aktivitas perbankan di Indonesia masih sangat banyak sehingga setiap bank BUMN akan diarahkan untuk memiliki spesialisasi sehingga bisa menjadi lebih kuat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alih-alih melakukan merger, Rini mendorong bank pelat merah untuk melakukan lebih banyak melakukan sinergi dan konsolidasi yang pada akhirnya bisa meningkatkan efisiensi operasional perbankan Tanah Air. Salah satu contohnya adalah dengan meluncurkan kerjasama jaringan ATM Himbara.
Pengelolaan ATM secara bersama pada satu perusahaan switching bisa meningkatkan efisiesi biaya pengelolaan ATM dan biaya transaksi nasabah.
Bagi bank, konsolidasi ini akan menghemat biaya pengelolaan ATM hingga Rp 6,8 triliun per tahun. Sementara bagi masyarakat luas pengguna ATM, operasional ATM Himbara akan memangkas biaya transaksi ATM sekitar Rp 7,3 triliun per tahun.
"Banyak hal sebetulnya yang kita dapat tingkatkan dalam sinergi sehingga efisiensi makin baik,"ujarnya.
Sebelumnya Deputi Bidang Jasa Keuangan Kementerian BUMN Gatot Trihargo menyatakan rencana pembentukan induk bank BUMN (holding) masih harus dikonsultasikan instansinya dengan Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Keuangan, dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ia memperkirakan holding Bank BUMN akan lahir paling cepat 2018 mendatang.
Dengan pembentukan holding bank BUMN tersebut, nantinya Bank Mandiri, Bank BRI, Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Tabungan Negara (BTN) akan tergabung dalam Indonesian Bank Holding Company (IBHC) dengan kedudukan yang setara. Kementerian BUMN menurut Gatot mendorong pembentukan holding bank BUMN tersebut dengan cara meminta keempatnya mulai menciptakan produk-produk bersama diawali dengan ATM Himbara. (gen)