PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi, anak usaha Pertamina yang beroperasi di luar negeri menargetkan angka produksi tahun depan bisa mencapai 104 ribu barel oil equivalen per day (boepd). Target tersebut naik 10,63 persen dibandingkan target 2015 sebesar 94 ribu boepd.
“Mudah-mudahan bisa naik 10 ribu boepd lebih. Karena dari target tahun ini 94 ribu saja, rata-rata realisasi produksi kami per hari mencapai 113,4 ribu boepd,” kata Presiden Direktur Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi Slamet Riyadi di Jakarta, Selasa (22/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski harga minyak rendah, Slamet mengatakan perusahaan yang dipimpinnya masih mendapatkan untung tipis sehingga tidak ada alasan bagi manajemen untuk memangkas jumlah produksi tahun depan.
“Di tengah harga minyak drop, salah satu cara antisipasinya justru dengan meningkatkan produksi dan juga meningkatkan keekonomian,” tegasnya.
Sebelumnya Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengakui perusahaannya tengah berupaya mengakuisisi satu wilayah kerja migas lagi di Aljazair setelah melihat adanya potensi menjanjikan di negara Afrika itu.
“Kami dorong pemerintah untuk memimpin kerjasama antara Pertamina dengan National Oil Company (NOC) Aljazair yaitu Sonatrach. Kami harap bisa dapat blok lagi, dan itu potensinya bisa menambah produksi sampai 35 ribu barel per hari," jelas Dwi, pekan lalu.
Dengan adanya pendekatan langsung tersebut, ia harap Pertamina tak perlu lagi mengikuti tender. Skema investasinya pun sama seperti blok lainnya di Aljazair, di mana Pertamina akan menjadi operator WK dan akan mengajukan Reservoir Development Plan (RDP) jika keinginan ini dikabulkan.
"Mereka sudah menawarkan beberapa blok. Tapi kita belum tahu blok yang mana," ujarnya.
Selain beroperasi di Aljazair sejak 2013 lalu, Pertamina juga mengelola aset lapangan migas di Malaysia, Irak, dan Algeria. (gen)