PMI Manufaktur China Desember di Bawah 50

Reuters, CNN Indonesia | Jumat, 01/01/2016 13:39 WIB
PMI Manufaktur China Desember di Bawah 50 Sektor manufaktur China masih belum bisa bangkit dari perlambatan meski sudah diterbitkan berbagai paket kebijakan ekonomi oleh pemerintah China. (Ilustrasi/Reuters/Sigit Pamungkas)
Beijing, CNN Indonesia -- Data resmi bulan Desember menunjukkan bahwa kegiatan di sektor manufaktur China berkontraksi dalam lima bulan berturut-turut.

Data ini memperbesar kekhawatiran bahwa ekonomi kedua terbesar di dunia ini kemungkinan terjebak dalam perlambatan ekonomi yang berkepanjangan meski telah ada berbagai stimulus.

Meski sektor jasa China tampil perkasa di akhir 2015, ekonomi negara ini masih akan tumbuh dalam percepatan paling rendah dalam 25 tahun terakhir. Situasi ini mengisyaratkan bahwa pemerintah China harus meningkatkan dukungan untuk mendorong kegiatan ekonomi pada 2016.


Purchasing Manager’s Index, PMI, bulan Desember adalah 49,7 yang sejalan dengan perkiraan para ekonom dan hanya naik sedikit dari November.

PMI di bawah 50 poin menunjukkan satu kontraksi dalam kegiatan, sementara jika angkanya di atas 50 mengindikasikan satu ekspansi per bulan.

Permintaan yang terus turun dari pasar dalam dan luar negeri berdampak negatif pada pabrik-pabrik di China sehingga mereka bisa mengoperasikan kapasitas kegiatan secara penuh.

Para pengusaha pun terpaksa memotong harga jual, yang menyebabkan penurunan keuntungan dan menambah tekanan deflasi terhadap perekonomian yang lebih luas.

Jumlah total pemesanan baru, naik menjadi 50,2 pada Desember dari 49,8 di bulan November.

Tetapi pesanan ekspor menyusut untuk bulan ke 15 secara berturut-turut, meski percepatannya tidak separah sebelumnya. Sub-indeks ini naik menjadi 47,5 dari 46,4 pada November.

Biro Statitik Nasional, NBS, mengatakan meski harga minyak saat ini sangat rendah, pabrik-pabrik kesulitan mendapatkan uang tunai di akhir tahun sehingga tekanan pada sektor manufaktur relatif besar.

Baru-baru ini Bank Sentral China menyebutkan, pertumbuhan ekonomi China diperkirakan akan turun dari 7,3 persen pada 2015 menjadi 6,9 persen pada 2015. Ini adalap pertumbuhan paling lambat dalam 25 tahun terakhir.

Bank Sentral menambahkan bahwa pertumbuhan akan turun pada 2016 yaitu di angka 6,8 persen.

Akan tetapi, sejumlah pengamat China yakin tingkat pertumbuhan riil jauh lebih lambat dari data resmi pemerintah.

Minggu lalu, para pejabat tinggi pemerintah menggarisbawahi target-target utama tahun 2016 dengan mengatakan, pemerintah akan melakukan “reformasi di sektor penawaran” untuk membantu menghidupkan motor pertumbuhan baru ketika industri logam seperti pabrik baja mengalami kerugian.

Sejumlah pengamat memperkirakan Beijing akan mengeluarkan langkah-langkah pengondoran di tiga bulan pertama 2016, seperti penurunan suku bunga dan persyaratan rasio cadangan perbankan, untuk membantu memicu kegiatan perekonomian.

Tetapi ekonomi China bereaksi lebih lama dari biasa terhadap berbagai langkah-langkah pengendoran dan stimulus yang dilakukan sepanjang 2015. Hal ini mengindikasikan bahwa China menghadapi siklus mendalam dan kelemahan struktural dibandingkan perlambatan ekonomi sebelumnya.

Sementara itu, data resmi di sektor jasa memperlihatkan percepatan kegiatan di bulan Desember.

Sektor jasa memang menjadi titik cerah dalam perekonomian China dalam beberapa tahun terakhir, yang membantu mencegah perlambatan berkepanjangan di sektor manufaktur yang sangat besar. Meski demikian, pasar finansial cenderung memusatkan perhatian pada data-data sektor manufaktur.

PMI untuk sektor non-manufaktur pada Desember naik menjadi 54,4 dari 53,6 di bulan November.

Dalam setidaknya dua tahun terakhir sektor jasa menjadi penyumbang terbesar dalam output ekonomi China, dan pangsanya naik menjadi 48,2 persen pada 2014, dibandingkan kontribusi dari sektor manufaktur dan konstruksi yang mencapai 42,6. (yns)