"Blok Masela diharapkan onshore (di daratan) karena kepentingan daerah jauh lebih besar. Kita harus mengeluarkan modal lebih untuk dapat hasil lebih. Jangan terpukau dengan angka-angka," kata Nono dalam sebuah diskusi bertajuk Gaduh Blok Masela di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (2/1).
Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli menyebut nilai investasi untuk Floating LNG (FLNG) sekitar US$ 19,3 miliar sementara untuk Land Base LNG hanya mencapai US$ 14,8 miliar-US$ 15 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada efek turunan berganda dan itu bermanfaat untuk pembangunan wilayah. Ada kepentingan sosial dan ekonomi. Kalau di offshore itu sedikit efeknya,” ujar Nono.
"Ada pupuk, industri pertahanan, industri hilir, kita juga perlu bangun pembangkit listrik. Ini dibutuhkan untuk Indonesia Timur yang jarang listrik," kata Sugita.
Belakangan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said meminta konsultan independen untuk memberikan rekomendasi dari hasil kajian keekonomian proyek tersebut. Hasil kajian terakhir dari konsultan independen asal Amerika, Poten & Partners menunjukkan kecenderungan rekomendasi pembangunan kilang minyak dengn metode FLNG di tengah laut.
Tidak puas dengan kajian konsultan tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Sudirman mengundang manajemen Inpex Corporation untuk melakukan presentasi secara langsung atas rencana kerjanya di Blok Masela. Hasil presentasi tersebut akan menjadi pertimbangan Jokowi dalam menentukan masa depan Blok Masela. (gen)