Uniknya, Kepala BPS Suryamin lebih senang membandingkan jumlah penduduk miskin pada September 2015 dengan Maret 2015 yang disebutnya terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 80 ribu jiwa.
Ia mengatakan penurunan jumlah penduduk miskin selama enam bulan tersebut merupakan indikator pulihnya perekonomian masyarakat dari dampak pencabutan subsidi harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium pada November 2014 silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menyebut inflasi yang relatif rendah sangat membantu penurunan jumlah penduduk miskin selama 2015. Turunnya sejumlah komoditas pangan dan bahan makanan juga menjadi faktor penurunan jumlah penduduk miskin tersebut.
"Harga kelapa sawit (Crude Palm Oil) juga sedang turun dan ini juga jadi bagian konsumsi masyarakat menengah ke bawah, jadi sangat membantu," jelasnya.
Peranan komoditas makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas non makanan.
Secara demografi, jumlah penduduk miskin paling banyak mendominasi di pulau Jawa, Tercatat sebanyak 15,31 juta jiwa penduduk miskin tersebar di pulau Jawa.
Sementara sisanya tersebar di Sumatera sebesar 6,31 juta jiwa, Bali dan Nusa Tenggara 2,18 juta jiwa, pulau Sulawesi 2,19 juta jiwa, Maluku sebanyak 1,53 juta jiwa, dan Kalimantan 0,99 juta jiwa. (gen)