“Tahun ini kontraksinya lebih lembut lah, lebih moderat. Mungkin kontraksi 2-3 persen, bukan lagi kontraksi dahsyat seperti tahun lalu,” ujar Thomas di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (4/1).
Menurut Thomas, produk ekspor Indonesia yang bisa menjadi andalan di pasar global adalah produk yang padat karya seperti perhiasan dan permata maupun industri kayu dan mebel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Current account deficit lebih baik. Neraca perdagangan tetap surplus,” ujarnya.
Lebih Optimistis
Thomas mengakui tahun lalu ia menolak untuk optimistis. Pasalnya, perekonomian global masih banyak menghadapi masalah. Kendati demikian, tahun ini, Thomas lebih optimistis.
“Di 2016 saya jauh lebih optimis meskipun masih banyak ranjau, masih banyak risiko,” ujarnya.
Pemerintah, lanjut Thomas, akan terus melakukan deregulasi dan efisiensi perizinan dan peraturan untuk mendorong sektor swasta. Sektor ini, disebut Thomas, memiliki kontribusi 40-50 persen terhadap perekonomian nasional. (gen)