Marwan Batubara, Direktur Indonesia Resources Studies (IRESS) mengatakan cadangan minyak Indonesia saat ini sangat terbatas sehingga perlu ada kebijakan untuk menambah cadangan minyak salah satunya melalui akuisisi ladang-ladang migas di luar negeri.
“Dengan ekspansi, ke depan produksi minyak Pertamina bakal meningkat. Ini juga secara tidak langsung akan membantu menjaga ketahanan energi nasional,” ujar Marwan, Rabu (6/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komaidi Notonegoro, Deputi Direktur ReforMiner Institute setuju dengan ekspansi ke luar negeri karena cadangan migas di dalam negeri semakin menipis. Bila hanya bergantung pada cadangan di dalam negeri dan yang beroperasi hal ini tidak menguntungkan.
Oleh karena itu, ia mendorong agar Pertamina tidak hanya melakukan akuisisi dengan membeli saham pada ladang migas yang sudah ada. Tapi juga melakukan kegiatan eksplorasi. Pola yang dipakai perseroan terhadap blok migas di luar negeri lebih pada pembelian saham dari pemiliknya.
Namun Marwan mengingatkan, yang harus dilakukan tentu saja harus menyasar lapangan-lapangan yang sudah masuk dalam tahapan eksploitasi dan bukan di lapangan-lapangan eksplorasi. Selain itu ke depan bila Pertamina hendak melakukan ekspansi harus membuat perhitungan secara matang.
“Jangan sampai membeli lapangan yang lebih mahal sehingga berpotensi menimbulkan kerugian,” katanya.
Wianda Pusponegoro, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), mengatakan PIEP disiapkan oleh induk usahanya Pertamina untuk mengelola aset-aset hulu milik Pertamina di luar negeri. Hal tersebut menjadi bagian dari ketahanan dan kemandirian energi nasional. PIEP saat ini mengelola tiga ladang migas di Aljazair, Irak, dan Malaysia.
“Kami sebagai operator di Blok MLN Aljazair, kami yang jalankan operasinya. Ke depan semua kegiatan eksplorasi akan dapat di-lead oleh Pertamina,” ujarnya.
Wianda mengatakan tahun ini, PT Pertamina Drilling Service Indonesia (PDSI), anak usaha Pertamina di sektor pengeboran, akan mengirimkan rig ke Aljazair untuk mendukung implementasi RDP 2015, pengeboran 20 sumur, dan workover 16 sumur.
Slamet Riadhy, Direktur Utama PIEP menambahkan minyak Pertamina dari operasi internasional diutamakan untuk masuk ke kilang Pertamina. Dari operasi internasional sepanjang 2015 mencapai 19 kali pengapalan dengan volume 11,6 juta barel. Sebagian besar minyak masuk ke kilang pengolahan Balikpapan, Kalimantan Timur dan kilang pengolahan Cilacap, Jawa Tengah.
“Pada tahun-tahun mendatang jumlah minyak tersebut akan terus meningkat seiring dengan kenaikan produksi dari operasi internasional Pertamina,” katanya.
Menurut Slamet, sebagian minyak yang secara operasional harus dijual ke pasar internasional pada saat jadwal pengapalan minyak tidak sesuai dengan jadwal dan spesifikasi minyak yang diperlukan oleh kilang Pertamina. (gen)