Agung Murdifi, Manajer Senior Hubungan Masyarakat PLN mengaku jika Pertamina meminta harga jual uap di angka US$9,5 sen per kilowatt per hours (kWh), manajemen PLN tak sanggup membelinya.
"Kalau harga uap yang ditawarkan wajar, kami mungkin akan beli karena selama ini kami sudah kerjasama selama 32 tahun dengan Pertamina. Namun yang membuat kami bingung, kenapa tiba-tiba pertamina menawarkan harga mahal hanya untuk jangka waktu lima tahun saja,” ujar Agung dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (7/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, di tengah kerjasama tersebut PLN menilai Pertamina telah menaikkan harga uap tanpa memperhitungkan biaya operasional yang dimiliki PLN untuk bisa menghasilkan listrik. Bahkan manajemen PLN menilai Pertamina telah mengambil keputusan yang aneh lantaran pemberlakuan tarif uap sebesar US$9,5 sen per kWh hanya berlaku untuk lima tahun ke depan.
Bahkan, Wianda mengatakan keputusan tersebut berpotensi menghentikan pasokan uap untuk PLTP Kamojang 1, 2, dan 3.
"Tidak adanya kesepakatan yang dicapai kendati Pertamina telah memberikan penawaran paling lunak dengan perpanjangan interim agreement dan PLN melalui suratnya 29 Desember 2015 justru menyampaikan permintaan kepada Pertamina untuk menutup sumur-sumur uap untuk PLTP Kamojang 1,2, dan 3. Kami telah menyampaikan kepada PLN untuk dapat kembali kepada interim agreement hingga akhir Januari 2016,” kata Wianda. (gen)