Ahmad Bambang, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina mengatakan tantangan perusahaan dalam memasarkan BBM non subsidi saat ini adalah bagaimana masyarakat mau menggunakan pertamax dan pertalite.
"Hingga saat ini, pertalite telah dipasarkan di 2.133 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dalam kurun waktu kurang dari lima bulan sejak diluncurkan," kata Ahmad, Sabtu (16/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang tinggal bagaimana mengembangkan teknologi agar produk-produk yang dipasarkan bisa memenuhi kebutuhan konsumen,” kata dia.
Menurut Rhenald, Pertamina telah melakukan langkah tepat dengan meluncurkan produk pertalite untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang menginginkan premium dengan RON lebih tinggi, namun tidak mampu membeli harga pertamax.
Ia mengusulkan untuk mengoptimalkan penjualan, Pertamina harus bisa membuat terobosan sehingga konsumen bisa dengan mudah membeli produk yang dijualnya.
Hal tersebut menurut Ahmad Bambang, baru dimulai Pertamina untuk produk pelumas dan elpiji. Ia mengatakan produk pelumas dan elpiji bisa dibeli masyarakat dari SPBU terdekat dengan layanan pesan antar layaknya makanan cepat saji. Untuk itu, Pertamina telah menggandeng PT GoJek Indonesia.
“Sekarang kami benahi sistem teknologi informasinya. Jadi produk-produk yang dijual Pertamina bisa langsung sampai ke konsumen,” tukas dia.
Pertamina juga mengembangkan SPBU Pasti Prima. Nanti SPBU tidak sekadar untuk membeli BBM, namun menjadi food and energy station dengan menggandeng Perum Bulog dan juga PT Pos Indonesia (Persero). “BUMN Corporation akan kami wujudkan dengan menggandeng Bulog dan PT Pos,” kata dia.
Menurut Ahmad, Pertamina juga akan meningkatkan brand image produk pelumas. Apalagi pelumas Pertamina memiliki keunggulan dari sisi harga jual yang lebih kompetitif dibanding produk-produk sejenis lainnya. (gen)