Kepala Divisi Komunikasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Dwi Shara Soekarno mengatakan, pada pekan kedua di tahun 2016, IHSG masih bergerak secara fluktuatif. Ia menilai pada pekan ini terdapat sentimen negatif terkait serangan teror di kawasan Thamrin, Jakarta, yang mampu diredam oleh penurunan suku bunga acuan.
“Reaksi investor atas peristiwa di bidang Hukum, dan Keamanan pada Kamis (14/1) diimbangi oleh sentimen positif dari hasil Rapat Dewan Gubermur Bank Indonesia (BI) yang menurunkan suku bunga acuan perbankan (BI rate) 25 basis poin ke level 7,25 di hari yang sama,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (17/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Selama periode 11 Januari 2016 hingga 15 Januari 2016, investor asing mencatatkan jual bersih di pasar saham dengan nilai Rp1,94 triliun. Secara tahunan, aliran dana investor asing di pasar saham masih tercatat jual bersih dengan nilai Rp2,55 triliun,” jelas Dwi Shara.
Kepala Riset NH Korindo Securities Reza Priyambada mengatakan, pada perdagangan di awal pekan ini IHSG dibuka melemah yang membuat pelaku pasar masih wait and see untuk jangka pendek. Aksi jual bersih yang kembali dilakukan oleh asing secara signifikan juga membuat pelaku pasar urung melakukan aksi beli.
“Masih banyaknya sentimen negatif baik dari Tiongkok, harga minyak, serta maraknya isu politik dalam negeri berupa resuffle kabinet membuat IHSG tertekan mengikuti bursa saham Asia,” jelasnya dalam riset.
“Tak heran, pelaku pasar kembali melakukan aksi beli sambil memanfaatkan rebound nya indeks. Meskipun IHSG ditutup melemah saat itu, namun secara intraday perdagangan laju IHSG di tutup menguat atau lebih tinggi dari posisi pembukaan kendati masih lebih rendah dari penutupan sehari sebelumnya,” jelasnya. (gir)