Faisal menuding proyek yang ditaksir menelan investasi US$5,5 miliar tersebut sarat kepentingan pribadi dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, yang diketahui menjadi penghubung Indonesia guna menjaring investasi dari China.
"Sebut saja ada Rini Soemarno. Urus deal-nya kok bukan Pak Jonan (Menteri Perhubungan)? Ada keanehan-keanehan yang harus disingkap supaya jelas," ujar Faisal di kantor PT PLN (Persero) Pusat, Jakarta, Jumat (22/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas ini juga menyoroti pembentukan konsorsium empat BUMN dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang nantinya akan menjadi mitra China Trailway dalam pengerjaan jalur kereta 142 kilometer.
Berangkat dari hal ini, ia pun meminta Jokowi mengevaluasi kembali rencana pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang ditargetkan bisa selesai pada 2019 mendatang.
Sebab dia menilai keputusan Presiden melanjutkan proyek kereta cepat lantaran mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut tak memperoleh informasi yang utuh mengenai analisa pengadaan jalur kereta cepat.
"Saya itu pendukung Pak Jokowi dan Presiden kita tidak bodoh. Tapi berikan informasi karena prosesnya tidak jelas. Sumber informasinya itu ada yang salah informasi sehingga presiden putuskan itu dengan informasi yang kurang lengkap," imbuh Faisal.
Sampai artikel ini diturunkan, Menteri Rini belum membalas pesan singkat yang diajukan CNNIndonesia.com. (gen)