Direktur Utama BNI Achmad Baiquni menyatakan manajemen sudah memutuskan bahwa pada awal Februari 2015 ini perseroan akan menurunkan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) setelah adanya pemangkasan BI rate.
“Nanti ada penyesuian tertentu, turunnya sekitar 25 basis poin dan itu akan diikuti oleh turunnya suku bunga kredit ritel paling tidak 25 basis poin," tuturnya di kantor pusat BNI, Jakarta, Senin (25/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari Agustus sampai Desember tahun lalu kita menyalurkan KUR Rp3 triliun," ujarnya.
Tahun ini, BNI menargetkan pertumbuhan kredit bisa mencapai 16-18 persen dengan menyasar pasar perusahaan pelat merah yang banyak melaksanakan proyek infrastruktur pemerintah.
"Kita berharap kredit infrastruktur bisa mendorong kredit lainnya juga bisa tumbuh, selain itu kredit perdagangan dan konstruksi juga tumbuh," ujarnya.
Dikutip dari laman resmi perseroan, suku bunga deposito BNI ada di kisaran 4,25 - 6,25 persen tergantung pada jangka waktu dan besaran simpanan. Adapun SBDK BNI per 31 Desember 2015 tercatat 10,75 persen untuk kredit korporasi, 12 persen untuk kredit ritel, 11 persen untuk kredit konsumsi Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dan 12,5 persen untuk kredit non-KPR.
"Ini kan yang deposito masih ada yang belum jatuh tempo, kredit yang kita berikan juga ada yang belum jatuh tempo. Jadi (penurunan suku bunga) dilakukan secara bertahap," ujar Direktur Utama BRI Asmawi Syam secara terpisah. (gir)