Direktur Utama SMF Raharjo Adisusanto mengatakan kontribusi SMF di sektor pembiayaan sekunder perumahan terus ditingkatkan, dimana total aliran dana di 2016 ini ditargetkan mencapai Rp6,1 triliun, yang terdiri dari sekuritisasi sebesar Rp2 triliun, dan penyaluran pinjaman Rp4,1 triliun.
“Sementara untuk penerbitan surat utang diproyeksikan mencapai Rp2,2 triliun,” ucap Raharjo dalam keterangan resmi, Kamis (28/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Selain itu, SMF juga berupaya meningkatkan edukasi kepada perbankan untuk melakukan sekuritisasi melalui instrument EBA-SP (Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi) agar perbankan dapat mengurangi risiko kredit atas KPR akibat adanya risiko mismatch,” katanya.
Untuk diketahui secara total (outstanding) sejak 2006, perseroan telah mengucurkan Rp20,25 triliun hingga 31 Desember 2015, atau meningkat 22 persen dari tahun sebelumnya di angka Rp16,54 triliun.
Raharjo Adisusanto mengatakan, kinerja SMF tahun 2015 dicapai melalui kegiatan sekuritisasi sebesar Rp200 miliar, dan penyaluran pinjaman sebesar Rp3,51 triliun, sehingga aset SMF di tahun 2015 menembus angka Rp10 triliun, yaitu sebesar Rp10,06 triliun.
“Pada tahun ini perseroan menjadi penerbit (EBA-SP) pertama, dengan pencatatan perdana EBA-SP KPR, 'SMF-BTN01, senilai Rp200 miliar di pasar modal,” ujarnya.
Dalam skema EBA-SP tersebut, peran SMF yaitu sebagai penerbit sekaligus penata sekuritisasi, pendukung kredit, dan investor. Hal tersebut sesuai mandat pendirian SMF dalam Pepres 1/2008 Jo.19/2005, serta Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.23/POJK.04/2014, sekaligus memperkuat pasar keuangan Indonesia serta mendukung pengembangan basis investor domestik.
“Indikator Kinerja Utama (IKU) SMF diukur dari jumlah dana yang telah tersalurkan dari pasar modal ke sektor pembiayaan perumahan, sehingga tujuan dari pendirian SMF dapat tercapai,” kata Raharjo.