Beradasarkan laporan keuangan perseroan yang dikutip pada Senin (1/2), tercatat pendapatan XL Axiata turun 2 tercatat turun 2,47 persen menjadi Rp22,88 triliun pada 2015, dari Rp23,46 triliun di tahun sebelumnya.
Namun, jumlah beban perseroan melorot lebih dalam sebesar 9,74 persen menjadi Rp19,74 triliun pada 2015, dari Rp21,87 triliun sepanjang 2014. Tercatat beban infrastruktur dan penyusutan naik masing-masing 12,88 persen dan 10,77 persen menjadi Rp9,29 triliun dan Rp6,89 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu masih ditopang penurunan beban umum dan administrasi, beban amortisasi dan keuntungan selisih kurs bersih sebesar Rp21,81 miliar dari sebelumnya menderita rugi selisih kurs Rp302,65 miliar.
Alhasil, XL Axiata mampu mencetak penaikan laba usaha sebesar 97,48 persen menjadi Rp3,14 triliun pada 2015 dari Rp1,59 triliun sepanjang 2014. Hal itu serta merta mendukung kinerja perseroan dengan terpangkasnya rugi bersih perusahaan sebesar 97 persen menjadi Rp25,24 miliar, dari Rp803,71 miliar.
Analis Mandiri Sekuritas Ariyanto Kurniawan mengatakan XL Axiata membukukan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) pada kuartal IV 2015 sebesar Rp2,3 triliun, naik 6 persen secara kuartalan dan 1 persen secara tahunan.
“Kinerja itu membentuk EBITDA 2015 menjadi Rp8,4 triliun, turun 3 persen secara tahunan, sejalan dengan prediksi kami dan konsensus Rp8,3 triliun-Rp8,4 triliun,” ujarnya dalam riset.
Menurutnya pendapatan pada kuartal IV 2015 dibukukan flat secara kuartalan, sedangkan beban operasional naik 4 persen secara kuartalan. Meskipun demikian, margin EBITDA pada pada kuartal IV 2015 membaik menjadi 39 persen, kendati margin turun tipis 8,6 persen.
“Perusahaan juga membukukan adanya pemasukan Rp2 triliun dari penjualan menara dan Rp2,5 triliun rugi valas yang belum terealisasi (unrealized) untuk utang denominasi dolar AS-nya,” jelasnya.
Asal tahu saja, saat ini XL tengah menyatakan rencana penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) yang akan digunakan untuk membayar utang kepada induk usaha senilai US$500 juta.
Hingga jeda siang perdagangan hari ini, harga saham perusahaan dengan kode EXCL tersebut tercatat naik tipis sebsar 0,68 persen ke angka Rp3.700, dari Rp3.675 per lembar pada penutupan sebelumnya.