"Tahun ini perseroan memproyeksikan penjualan LNG sebesar 147 kargo atau sekitar 8,3 juta metrik ton per tahun, ada penurunan dibandingkan realisasi tahun lalu karena berkurangnya pasokan dari hulu,” ujar Salis S. Aprillian, Direktur Utama Badak NGL, Rabu (3/2).
Untuk mencapai target penjualan LNG tahun ini, Badak NGL mengalokasikan belanja modal dan operasi sebesar US$200 juta atau sekitar Rp2,76 triliun. Alokasi belanja modal tersebut antara lain untuk melakukan modifikasi kilang, DCS retrofit, dan lean gas project.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, menurut Salis, Badak NGL menyusun beberapa skenario untuk dapat melanjutkan operasi dalam bingkai yang diberi nama the Second Life Cycle of Badak NGL. Di antara skenario itu adalah masuknya produsen gas baru, yaitu ENI Jangkrik yang memiliki gas kering (lean gas) dan kemungkinan meningkatnya kembali produksi Blok Mahakam pasca-pengalihannya kepada Pertamina.
“Efisiensi antara lain melalui renegosiasi asuransi kilang, inhouse maintenance, in-house dry docking untuk tugboat, renegosiasi pengadaan, in-house traning, dan restrukturisasi organisasi,” ujarnya.
Pasalnya kondisi tersebut menekan harga LNG internasional menjadi sangat rendah. Dalam dunia LNG, Hari menyebut kondisi ini sebagai buyers market, yaitu para pembeli yang menentukan pembelian dan harga.
“Ini merupakan kondisi untuk beli LNG. Sayangnya, meskipun kesempatannya ada, infrastruktur domestiknya belum memadai sehingga Indonesia tidak bisa memanfaatkan kondisi tersebut,” katanya.
Badak NGL adalah perusahaan penghasil gas alam cair terbesar di Indonesia dan salah satu kilang LNG terbesar di dunia. Perusahaan ini dibentuk pada 26 November 1974 oleh Pertamina, Huffco Inc, dan Japan Indonesia LNG Company (JILCO). Saat ini komposisi pemegang saham Badak NGL adalah Pertamina 55 persen, Vico Indonesia 20 persen, Total E&P Indonesie 10 persen, dan JILCO 15 persen.