Kepala Riset First Asia Capital David Sutyanto mengatakan meningkatnya resiko pasar saham global dan kawasan terutama dipicu anjloknya harga minyak mentah. Selain itu terdapat kekhawatiran memburuknya perkembangan ekonomi global di tengah ancaman kenaikan tingkat bunga Fed Funds Rates di masa mendatang.
“Namun optimisme pasar atas prospek pertumbuhan ekonomi domestik tahun ini dan pergerakan rupiah atas dolar AS yang relatif stabil membuat koreksi indeks yang terjadi sifatnya terbatas,” ujarnya dalam riset, Rabu (10/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, harga minyak mentah tadi malam di AS kembali anjlok 4,45 persen di US$28,37 per barel menyusul data American Petroleum Institute (API) yang mencatat kenaikan cadangan minyak mentah negara tersebut pekan lalu hingga 2,4 juta barel mencapai 503,4 juta barel.
“IHSG diperkirakan bergerak bervariasi berpeluang rebound terbatas. IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 4.750 hingga 4.810,” imbuhnya.
Adapun, David menilai aksi ambil untung mendominasi perdagangan saham kemarin menyusul memburuknya kondisi pasar saham global dan harga sejumlah saham unggulan yang relatif tinggi. IHSG kemarin ditutup terkoreksi 30,321 poin (0,632 persen) ke 4.768,625.
“Koreksi IHSG terutama akibat aksi ambil untung di saham perbankan dan saham infrastruktur setelah harganya menguat signifikan pada perdagangan akhir pekan lalu,” ujarnya.
“Sehingga diperkirakan IHSG masih akan mengalami tekanan dengan menguji MA200 yang telah menjadi support dengan range 4.705-4.800,” katanya. (gir)