Menurut riset EY, dari total 5,98 juta pekerja tersebut terdiri dari 4,28 juta pekerja di pabrik rokok dan distribusi. Sementara 1,7 juta pekerja lainnya berkontribusi menggarap perkebunan tembakau dan cengkeh dari beberapa daerah di Indonesia.
“Kediri, Kudus, Malang, dan Surabaya merupakan wilayah produsen rokok utama di Indonesia,” ujar riset EY, dikutip Kamis (11/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng menilai survei itu memberi bukti bahwa IHT tetap solid di tengah perlambatan ekonomi yang dialami Indonesia dan negara-negara lain di dunia.
Ia menjelaskan, saat ini banyak perusahaan manufaktur di Indonesia ambruk disebabkan oleh masalah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika akibat masih banyak yang bergantung pada bahan baku impor.
Oleh karena konsisten menghasilkan pendapatan, Daeng menyebut tidak heran IHT masih terus memberikan kontribusi tinggi terhadap penerimaan pajak dan cukai negara. Namun sayangnya, ia melihat pemerintah tidak pernah mau perduli dengan pengembangan IHT dengan hanya mengedepankan pendapatan berulang dari IHT tersebut.
"Pemerintah tidak mengurus masalah IHT, yang diurus uangnya saja. Pemerintah tidak urus pertanian tembakau, tidak urus perdagangan tembakau, hingga peningkatan kapasitas petani," tandas Daeng.