“Sehubungan dengan aspek teknis yang perlu disiapkan oleh perbankan, (penurunan GWM) akan kita berlakukan mulai 16 Maret 2016,” tutur Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo dalam konferensi pers di Gedung Thamrin BI, Kamis (18/2).
Agus mengungkapkan penurunan GWM primer dalam rupiah sebesar seratus basis poin itu bisa menambah likuiditas hingga Rp34 triliun ke pasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Adapun terkait transmisi dari BI rate yang diturunkan dan GWM primer dalam rupiah yang diturunkan, kami berharap akan bisa efektif dan lebih bisa dirasakan itu diantara satu sampai tiga bulan (ke depan),” ujarnya.
“Pertumbuhan kredit kalau tanpa penurunan GWM itu bisa naik dari sekarang sekitar 10 persen, di akhir tahun menjadi kurang lebih sekitar 12,5 persen. Kalau ditambah dengan penurunan GWM yang satu persen ini, pertumbuhan kreditnya bisa lebih tinggi yaitu menjadi 14 persen,” ujarnya.
Alasan kedua, kombinasi penurunan BI rate dan GWM primer dalam rupiah akan memperkuat dan mempercepat transmisi moneter ke perekonomian nasional.
Terakhir, penurunan GWM primer dalam rupiah merupakan bagian dari bauran kebijakan yang diarahkan BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas. Dengan adanya bauran kebijakan ini, BI optimistis pertumbuhan ekonomi tahun 2016 akan mengarah ke titik tengah dari target 5,2 – 5,6 persen secara tahunan (yoy).
“Tempo hari kecenderungan (pertumbuhan ekonomi) ada di batas bawah (5,2-5,6 persen),” ujarnya.