Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan melambatnya pertumbuhan laba bersih tahun lalu dibandingkan pertumbuhan 2014, sebesar 9,2 persen (yoy) karena adanya peningkatan biaya pencadangan (provisions net).
Bank Mandiri, lanjut Budi, termasuk bank konservatif dalam mengalokasikan biaya pencadangan guna mengantisipasi turunnya kualitas kredit seiring melambatnya perekonomian. Tercatat, biaya pencadangan Mandiri tahun lalu naik lebih dari dua kali lipat dari Rp5,53 triliun pada tahun 2014 menjadi Rp12,04 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apabila komponen biaya pencadangan itu dihilangkan, laba operasional Bank Mandiri tahun lalu meningkat 29,45 persen menjadi Rp40,79 triliun.
Lebih lanjut, pertumbuhan laba tahun lalu ditopang oleh pertumbuhan penyaluran kredit perseroan sebesar 12,4 persen (yoy) menjadi Rp595,5 triliun dengan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/ NPL) net di tingkat 0,9 persen atau naik tipis 0,09 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, pertumbuhan penyaluran kredit itu mendorong peningkatan aset sebesar 6,4 persen (yoy) dari Rp855 triliun pada tahun 2014 menjadi Rp910,1 triliun.
Dari sisi dana, Bank Mandiri sepanjang tahun lalu mampu menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar R676,4 triliun dari Rp636,4 triliun pada tahun 2014. Dari pencapaian itu, total dana murah yang terkumpul adalah Rp443,9 triliun yang didorong oleh peningkatan tabungan sebesar Rp19,3 triliun menjadi Rp271,7 triliun.
Selanjutnya, laba perseroan tahun ini juga didorong oleh pertumbuhan pendapatan operasional sebesar 18 persen (yoy) menjadi Rp67,1 triliun, kenaikan pendapatan pendapatan bunga bersih dan premi bersih sebesar 16 persen (yoy) menjadi Rp48,5 triliun, serta pertumbuhan pendapatan berbasis biaya (fee based income) sebesar 23,7 persen (yoy) menjadi Rp18,8 persen. (gen)