Seperti dikutip dari Reuters, pemerintah Venezuela menegaskan rencana pertemuan pada pertengahan Maret yang dihadiri oleh para produsen minyak antara lain Arab Saudi, Rusia dan Qatar, untuk menstabilkan harga yang merosot 70 persen dalam 20 bulan.
Empat negara yang terlibat dalam upaya untuk mendapatkan produsen minyak di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan tempat lain untuk membekukan produksi di level tertinggi bulan Januari. Banyak pedagang percaya pemangkasan produksi adalah hal yang dibutuhkan pasar untuk menghapus lubernya stok minyak mentah global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga minyak mentah berjangka AS CLc1 ditutup naik 92 sen, atau 2,9 persen, pada US$33,07 per barel.
Reli minyak mentah juga didorong oleh harga bensin berjangka RBc1, yang ditutup naik hampir 5 persen setelah bangkit pada perdagangan pagi hari karena permintaan yang kuat untuk bahan bakar motor.
Selain dari pertemuan Maret, para pedagang juga menyatakan sentimen dalam minyak dibantu oleh proyek di industri shale gas AS dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang akan memperlambat produksi.
Continental Resources Inc (CLR.N), salah satu pengebor shale gas terbesar di North Dakota, mengatakan akan terus menunda penyelesaian proyek di lapangan gas Bakken karena harga minyak mentah yang rendah.
Stok di titik pengiriman Cushing, Oklahoma untuk minyak mentah berjangka AS naik lebih dari 503.000 barel dan mencapai di atas 67,5 juta barel antara 19 Februari dan 24 Februari, kata para pedagang, mengutip data penyedia intelijen pasar, Genscape.
Secara resmi, pemerintah AS melaporkan pada hari Rabu bahwa Cushing menambahkan 333.000 barel pekan lalu mencapai 65,1 juta selama seminggu berturut-turut dari rekor tertinggi. Secara nasional, persediaan naik ke level puncak di atas 507 juta barel. (gir)