“Banyak sekali kegiatan-kegiatan lain yang membuat ‘lubang’ baru yang menggerus daya saing industri kita sendiri maupun membebani daya beli masyarakat,” tutur Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edy Putra Irawady saat ditemui dalam acara diskusi yang berteme "Tantangan Era Standarisasi dalam Mendorong Ekspor Industri Hasil Hutan" di Hotel Ibis Tamarin, Jakarta, Senin (7/3).
Edy mencontohkan, pungutan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dibebankan kepada pelaku usaha dan masyarakat meningkat. Dalam postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2016, target PNBP tahun ini mencapai Rp273,84 triliun atau naik dari 1,8 persen dari target tahun sebelumnya, Rp269,1 triliun. Padahal, menurut Edy, peningkatan penerimaan negara seharusnya didorong oleh penerimaan pajak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, pelaku usaha juga wajib menanggung sebagian porsi simpanan Tabungan Perumahaan Rakyat (Tapera) pasca disahkannya Undang-undang Tapera oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) beberapa waktu lalu.
“Kalau yang benar itu memang benar tetapi momennya belum tentu baik. Misalnya, sekarang ini yang lagi diributin di sosial media, kalau belanja harus beli kantong Rp 200. Ini kan daya beli masyarakat yang terkena,” ujarnya.
Melihat kondisi demikian, Edy mengaku sangat prihatin. Bahkan, kebijakan pemerintah yang terkesan kontradiktif itu bisa membuat pelaku usaha lokal menjual usahanya kepada pihak asing.
“Jadi, memang ada investasi (asing) masuk tetapi tidak ada kegiatan industri tambahan,” ujarnya.