Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto mengatakan hadirnya PLB otomotif bisa mengurangi biaya produksi karena pabrikan tidak perlu lagi mengimpor suku cadang yang biasanya didistribusikan secara sporadis antar produsen. Jongkie menyebut selama ini banyak produsen otomotif yang membangun kawasan berikatnya masing-masing sehingga satu kawasan berikat tidak bisa dinikmati oleh produsen lainnya.
"Kami memang sudah lama mendambakan kawasan berikat agar bisa dipakai bersama-sama. Kalau seperti itu kan semua produsen bisa menikmati suku cadang impor yang ditangguhkan dari bea masuk, sehingga produksi lebih efisien," jelas Jongkie ketika dihubungi, Jumat (11/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut pasal 42B Peraturan Pemerintah Nomor (PP) Nomor 85 Tahun 2015 tentang Penimbunan Berikat, barang yang dimasukkan dari tempat lain dalam wilayah Indonesia ke Pusat Logistik Berikat yang ditujukan untuk ekspor tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Hal itu, jelas Jongkie, menambah daya saing yang tinggi bagi produksi dalam negeri.
Kendati demikian, petinggi PT Hyundai Motor Indonesia mengaku belum bisa menyebut efisiensi ekspor otomotif yang bisa diperoleh industri dengan diimplementasikannya kebijakan ini. Kendati demikian, ia berharap ekspor tahun ini bisa berjalan sesuai rencana.
Data Gaikindo pada 2015 menunjukkan volume ekspor mobil CBU sebesar 207.691 unit atau meningkat 2,67 persen dibandingkan 2014 sebesar 202.273 unit. Sementara itu, Gaikindo menetapkan target ekspor CBU di atas 200 ribu unit pada tahun ini.
Pusat Logistik Berikat industri otomotif sendiri telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo kemarin (10/3), bersamaan dengan 10 pusat logistik berikat lainnya. Pusat logistik khusus otomotif dikelola oleh PT Toyota Motor Manufacturing di Karawang, Jawa Barat dengan luas 1.000 hektare. (gen)