“Kalau sukses tentunya fundamental keuangan dari XL makin sehat,” ungkap Adlan, Kamis (17/3).
Dijelaskannya, perseroan pada tahun ini ingin menekan jumlah utang hingga Rp13,29 triliun. Utang tersebut terdiri atas utang jatuh tempo senilai Rp3,93 triliun dan percepatan pelunasan utang yang mencapai Rp10,8 triliun. Rencananya, seluruh utang jatuh tempo tahun ini akan dibayar dengan kas internal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adlan menyatakan, jika semua berjalan mulus dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika relatif stabil maka tahun ini XL Axiata berpotensi mencicipi keuntungan.
Seperti diberitakan sebelumnya, tender menara tahap II yang tengah dilakukan XL Axiata dikabarkan tak hanya menarik minat perusahaan lokal. Namun beberapa perusahaan asing juga disebut siap bersaing, apabila pemerintah benar-benar mengubah ketentuan Daftar Negatif Investasi (DNI) pada bidang usaha menara menjadi 49 persen terbuka bagi investor asing pada 2017 mendatang.
Sementara dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal, pemerintah masih menutup kesempatan investor asing masuk dalam bisnis menara dengan hanya mengizinkan investor lokal menguasai 100 persen saham perusahaan menara.
Usulan DNI memang telah masuk ke Presiden sejak Februari 2016, tetapi belum keluar Peraturan Presiden.
“Kalau peserta sudah ambil dokumen dan belum ada yang mundur. Kami ada Non Disclosure Agreement (NDA) dengan semua peserta. Nama peserta tender saja tak boleh kami buka,” kata Adlan.
Sementara itu, analis Bahana Sekuritas Leonardo Henry Gavaza mengkalkulasi jika XL melepas 2.500 menara dengan nilai sekitar Rp1,6 miliar akan ada dana segar masuk ke kantong perusahaan sekitar Rp 4triliun.
“Ini akan signifikan membantu fundamental keuangan perseroan tetapi ada risiko penurunan pendapatan di sewa menara serta naiknya biaya jaringan,” katanya.
Bahana memperkirakan XL tahun 2016 akan memiliki pendapatan sekitar Rp24,2 triliun dengan keuntungan mencapai Rp449 miliar. Sementara dari sisi pelanggan, XL diperkirakan bisa memiliki 43,298 juta pelanggan dengan average revenue per user (ARPU) sekitar Rp41 ribu sepanjang 2016. (gen)