Hal itu dilakukan agar dana sebesar Rp16 triliun yang dipakai untuk menyubsidi BBM jenis solar tahun ini dapat dialihkan guna meningkatkan rasio elektrifikasi di sejumlah daerah.
"Kami merencanakan agar subsidi BBM bisa digeser ke sektor produktif. Satu diantaranya ke masalah pengadaan listrik melalui Program Indonesia Terang," ujar Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM Sujatmiko di Jakarta, Rabu (30/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guna merealisasikan rencana tersebut, lanjutnya, jajaran Kementerian yang dipimpin oleh Sudirman Said itu akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak termasuk Kementerian Keuangan dan PT Pertamina (Persero).
Seperti diketahui, dalam APBN 2016 pemerintah masih memberikan subsidi sebesar Rp1.000 untuk setiap liter solar dan minyak tanah yang dilego ke masyarakat. Dengan kuota sekitar 16 juta kiloliter (kl) maka besaran subsidi BBM tahun ini mencapai Rp16 triliun.
Program Indonesia Terang
Menyusul rencana pengalihan subsidi sebesar Rp16 triliun, tambah Sujatmiko, sedianya beberapa waktu lalu pemerintah telah merilis Program Indonesia Terang (PIT).
Program yang diluncurkan untuk mencapai target rasio elektrifikasi nasional dari 85 persen pada 2015 menjadi 97 persen di 2019 itu, sedianya akan dilakukan di beberapa daerah.
"Sekarang kan masih 12.000-an desa tertinggal yang belum menerima listrik. Jadi ini prioritas kami," imbuhnya.
Dalam catatan Kementerian ESDM, desa-desa yang sampai saat ini memperoleh aliran listrik meliputi: Pegunungan Bintang, Tolikara, Yahukimo, Puncak Jaya, Lanny Jaya, Memberamo Raya, Memberamo Tengah, Puncak Nduga, Intan Jaya, Yalimo, Supiori, Paniai, Dogiyai, Deiyai, Teluk Wondama, Tambraw, dan Maybrat. (gir)