Keempat bank tersebut meliputi: DBS Bank, DBS Group Holdings, Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) dan United Overseas Bank (UOB).
Dalam keterangannya, pemangkasan outlook ditetapkan berangkat dari kekhawatiran atas kualitas aset dan profitabilitas bank.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain melambatnya ekonomi dunia, jelas Moody's faktor yang turut menjadi musabab atas turunnya rating 4 bank tadi juga didorong oleh adanya risiko eksposur aset bank akibat pinjaman kredit yang digelontorkan perusahaan minyak dan gas bumi, maupun perusahan jasa yang bergerak di bidang tersebut.
Di mana eksposur tersebut berkisar antara 13 sampai 24 persen dari modal mereka pada akhir-2015.
Kendati demikian, Moody's menilai keempat bank Singapura tersebut memiliki buffer yang sangat kuat dalam hal permodalan.
Moody menyatakan, keempat bank tersebut bisa saja mendapat dukungan dari pemerintah Singapura jika sewaktu-waktu diperlukan.
Seperti diketahui, saat ini Moody's mengganjar Bank DBS, OCBC dan UOB dengan rating Aa1.
Sedangkan DBS Group Holding diganjar rating Aa2 tau lebih rendah dari ketiga bank lainnya.
Pada awal Maret lalu, Moody's juga memangkas prospek utang 38 perusahaan BUMN China. Salah satu prospek perusahan yang digunting Moody's adalah China Mobile Ltd.
Prospek surat utang China Mobile turun dari semula di level stabil menjadi negatif.
Sementara ada sebanyak 25 perusahaan non asuransi yang terpangkas prospek obligasinya dari stabil menjadi negatif.
Dari 25 perusahaan keuangan itu, sebanyak 12 merupakan perbankan komersial dan tiga diantaranya merupakan entitas aset manajemen. Moody's menyoroti langkah prioritas kebijakan reformasi ekonomi China.
Berangkat dari hal ini Moody's menganggap intervensi atas ekuitas dan kurs yang marak diusung China sejak setahun lalu mencerminkan ketidakpastian tentang prioritas kebijakan pemerintah (dim/gen)