Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Selasa (5/4), terdapat dua faktor yang menyeret penurunan laba bank daerah tersebut.
Pertama, melesatnya jumlah beban bunga yang mencapai 44,7 persen menjadi Rp1,18 triliun per akhir 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Umumnya, kenaikan cadangan kerugian penurunan nilai alias CKPN disebabkan oleh meningkatnya rasio kredit bermasalah perseroan.
Sedangkan dari sisi kredit, Bank Riau Kepri berhasil membukukan pertumbuhan kredit sebesar 10,5 persen dari Rp12,76 triliun pada akhir 2014 menjadi Rp 14,11 triliun pada akhir tahun lalu.
Sementara untuk kredit konsumtif, masih mendominasi sebanyak 70 persen dibandingkan kredit produktif yang berkisar 30 persen.
Secara umum, industri perbankan menyalurkan kredit sebesar Rp 4.082 triliun hingga akhir tahun lalu. Namun, pencapaian ini masih dibawah target industri, yaitu 13 persen - 15 persen.
Bank Riau Kepri sendiri menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 14 persen di sepanjang tahun ini. Salah satu strategi yang akan dijalankan perseroan, antara lain produk kredit baru khusus nasabah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Ini sekaligus sejalan dengan program pemerintah daerah yang ingin mendorong pertumbuhan usaha skala kecil. (dim/gen)