Laporan keterbukaan informasi yang disampaikan BTPN kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, pertumbuhan pendapatan bunga tahun lalu melampaui pertumbuhan beban bunga. Pendapatan bunga perseroan meningkat 5,7 persen menjadi Rp13 triliun. Sementara, beban bunganya cuma naik kurang dari 1 persen menjadi Rp5,3 triliun.
Namun demikian, beban operasional perseroan melesat 13,7 persen, yaitu dari Rp2,61 triliun pada akhir 2014 menjadi sebesar Rp2,97 triliun pada akhir tahun lalu. Sedangkan, pendapatan operasionalnya hanya tumbuh 1,8 persen menjadi sebesar Rp 235,02 triliun. Di sisi lain, cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) meningkat.
Jerry Ng, Direktur Utama BTPN menjelaskan, alasan utama laba bersih bank yang dipimpinnya mengalami penurunan adalah akibat investasi yang dilakukannya sepanjang tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ke depan, sambung dia, perseroan akan terus menyelaraskan target jangka pendek berupa kinerja yang baik dan jangka panjang, yaitu melakukan investasi untuk menjaga pertumbuhan yang berkesinambungan.
Kendati laba BTPN tercatat turun, bisnisnya membukukan pertumbuhan positif. Dari sisi kredit, misalnya, penyaluran kreditnya tumbuh 12,7 persen dari Rp51,95 triliun menjadi Rp58,56 triliun hingga akhir tahun lalu. Realisasi ini lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan kredit perbankan yang berkisar 10 persen.
Pertumbuhan kredit tersebut dimotori oleh penyaluran ke segmen masyarakat prasejahteran produktif, serta pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Kredit prasejahtera produktif naik 47 persen menjadi Rp 3,7 triliun dan kredit UMKM meningkat 23 persen menjadi Rp 15,6 triliun. Sementara, kredit pensiun tumbuh 9 persen mencapai Rp 37,9 triliun.