Kendati demikian, Associate Director Colliers Ferry Salanto mengatakan penjualan lahan ini membaik dibandingkan kuartal terakhir tahun sebelumnya seluas 17,35 hektare. Dari seluruh kawasan industri di Greater Jakarta, Kawasan Industri Modern Cikande di Banten memegang transaksi terbesar yaitu 5,5 hektare, atau 28,36 persen dari total lahan terjual.
"Pertumbuhan penjualan kawasan industri di kawasan Tangerang dan Banten kini memang sedang bertumbuh karena harga lahannya yang murah dibanding lokasi lainnya. Perbedaan harganya bisa mencapai 20 persen lebih murah dari Bekasi," ujar Ferry di Jakarta, Rabu (6/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun kami rasa hal itu tak akan terjadi dalam waktu dekat karena demand-nya sedang lemah," lanjutnya.
Ia beralasan, calon tenant masih enggan mengeluarkan uangnya untuk berinvestasi karena masih menunggu kebijakan-kebijakan Pemerintah di bidang infrastruktur.
"Seperti contohnya, perusahaan masih menunggu kepastian perpindahan pembangunan pelabuhan Cilamaya ke Patimban makanya demand agak menurun. Sebenarnya para perusahaan memiliki uangnya, namun belum digelontorkan saja," ujar Rivan.
Selain itu, rendahnya penjualan disebabkan karena tenant-tenant baru hanya menggunakan lahan yang tidak begitu luas. Hal ini, jelasnya, jauh berbeda dibandingkan penjualan lahan industri di tahun 2011 yang didominasi investasi otomotif, yang biasanya membutuhkan lahan yang luas.
Lebih lanjut, ia memperkirakan pelemahan penjualan lahan industri masih akan berlanjut sepanjang tahun ini. Meskipun Pemerintah telah memberikan berbagai kemudahan di dalam berinvestasi di kawasan industri, namun ia merasa dampaknya tidak akan dirasakan dalam jangka pendek.
"Memang perlu ada laporan dari lapangan, bagaimana kebijakan ini berjalan aslinya. Tapi kami rasa, kebijakan itu tak serta merta meningkatkan penjualan lahan industri dalam waktu sekejap," ujarnya.