Moeftie menilai pabrikan rokok di Indonesia perlu terus meningkatkan efisiensi dengan menggunakan teknologi terbaru yang berkembang di industri rokok dunia. Untuk itu, ia meminta pihak-pihak yang menolak digelarnya pameran di Indonesia untuk lebih bijaksana dalam menyikapi hal tersebut.
“Pameran itu menampilkan mesin-mesin terbaru yang sangat dibutuhkan industri untuk meningkatkan efisiensi. Lagipula, rokok adalah produk legal yang keberadaannya dilindungi oleh hukum, jadi kenapa pameran mesinnya ditolak,” kata Moeftie, Rabu (13/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ahok sudah menunjukan sikap objektifnya terhadap kepentingan perlindungan kesehatan masyarakat dan kelangsungan industri tembakau nasional. Saya berharap sikap objektif yang sama juga akan terefleksikan dalam perumusan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kawasan Tanpa Rokok," ujarnya.
“Ini hanya pameran mesin dan tak ada hubungannya dengan apa pun. Justru yang harus diatur dan dibatasi itu perokok yang masih merokok di dalam ruangan tertutup. Pemprov DKI Jakarta sudah tegas mengenai ini,” katanya.
Pengamat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng menilai berbagai kelompok kepentingan di Indonesia tidak hentinya berupaya mempengaruhi kebijakan pemerintah terkait dengan industri rokok dan tembakau di Indonesia.
Ia menilai, dengan bantuan dari lembaga-lembaga internasional keberadaan industri tembakau nasional yang merupakan sumber mata pencaharian bagi lebih dari 6 juta masyarakat Indonesia terus dipojokkan. (gen)