"Waktu panen, terutama padi, bergeser. Tidak terjadi di Maret, tetapi di bulan April," jelas Darmin di Jakarta, Rabu (4/5).
Maka dari itu, ia berharap, kontribusi pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II juga bisa lebih besar dibanding kuartal sebelumnya. Sebagai informasi, produksi pertanian secara harga konstan pada kuartal I 2016 hanya tumbuh 1,8 persen dan berkontribusi sebesar 20,8 persen terhadap PDB senilai Rp 2.262,6 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, jika pertumbuhan ekonomi dilihat dari sisi pengeluaran (expenditure approach), ia berharap belanja pemerintah pada kuartal berikutnya bisa lebih baik dibanding saat ini. Soalnya, meski sudah ada instruksi Presiden untuk menyegerakan belanja negara di awal tahun, namun data menunjukkan tak ada perubahan dibandingkan tahun lalu.
"Tentu belanja pemerintah ini harus diteruskan, untuk mempercepat pengeluaran, terutama belanja barang meskipun jumlah proporsinya tidak terlalu besar. Sehingga meski belanjanya naik, jumlahnya tidak cukup besar untuk mengompensasi unsur lainnya," terang Darmin.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis pertumbuhan ekonomi kuartal I 2016 sebesar 4,92 persen, di mana konsumsi masyarakat masih mendominasi dengan proporsi 56,86 persen. Pertumbuhan tersebut terbilang lebih besar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 4,73 persen. (bir)