"Syaratnya 3,5 tahun harus dikerjakan sekeras-kerasnya, baik dalam hal proyek PLN sendiri dan juga dalam hal pelaksanaan IPP (Independent Power Producer/swasta) harus cepat," ujar JK di kantornya, Jumat (13/5).
Selain menggenjot proyek, Wapres menekankan agar PLN mengubah cara berpikirnya, dari perusahaan yang harus mencari untung menjadi perusahaan pelayan publik. Karena, lanjut JK, oorientasi utama dari perusahaan pelayan publik melayani masyarakat secepat-cepatnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, jelas JK, PLN tidak harus diberikan penyertaan modal negara (PMN) tambahan karena kewajiban BUMN listrik itu telah diperingan. Apabila sebelumnya PLN diwajibkan membangun pembangkit listrik berkapasitas 10 ribu MW, saat ini jatahnya dipangkas menjadi hanya 5 ribu MW dari total 35 ribu MW.
"Karena tidak mudah sekarang kita berikan PNM dalam situasi penerimaan negara yang tidak sebaik dulu. Defisit (APBN) akan bertambah kalau kita kasih. Jadi lebih baik PLN memperbesar, mempercepat partisipasi dari pada investasi investor dalam negeri dan luar negeri," tuturnya.
Sebelumnya, Presiden Jokowi meminta Menteri ESDM Sudirman Said untuk mengevaluasi segera perkembangan mega proyek energi tersebut, mulai dari proses tender, pembiayaan, hingga rencana pengelolaannya oleh PT PLN (Persero). Pasalnya, dunia usaha mulai meragukan kesiapan program pembangkit listrik 35 ribu MW menyusut lambatnya eksekusi proyek tersebut.