Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto mengakui jumlah peserta program Jaminan Pensiun (JP) terbilang rendah jika dibandingkan dengan kepesertaan pada tiga program jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan lainnya.
"Masih rendah karena ketentuan pemberlakukannya masih baru dibandingkan program lainnya seperti Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JK)," ujarnya di Jakarta pada Kamis (19/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah untuk perusahaan sendiri yang sudah mendaftarkan karyawannya ke BPJS itu 334 ribu perusahaan. Target BPJS tahun ini adalah 350 ribu perusahaan," ungkap Agus.
"Tenaga kerja kita kesadarannya belum tinggi jika dibandingkan di luar negri. Buktinya, bila ketemu rekan kerja di luar negeri, coba tanyakan bagaimana jaminan sosial di negara mereka, saya dengar mereka sangat bangga dengan jaminan sosial mereka," tuturnya.
Agus menambahkan, manfaat yang didapat dari jaminan sosial di Indonesia memang belum terlalu besar, yakni rata-rata baru 8,7 persen dari gaji. Meski begitu, karyawan yang tidak mengikuti program JP ini akan rugi karena tidak bisa menikmati manfaat dari 8,7 persen tersebut.
"Jika mereka (karyawan di luar negeri) tidak mengecek slip jaminan sosialnya, mereka pasti merasa rugi," tandasnya. (ags)