Said Didu, Ketua Satuan Tugas Program Indonesia Terang mengatakan, program Indonesia Terang membutuhkan dana Rp100 triliun bagi elektrifikasi 12.569 desa-desa di seluruh Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau memang pembangkit listriknya ekonomis, kenapa tidak kami berikan insentif? Ujung-ujungnya kan bisa mengurangi beban APBN," jelas Said.
"Kalau tidak ada yang tertarik, terpaksa menggunakan APBN. Tetapi, kami harap ada swasta yang berminat," imbuh dia.
Kendati butuh uang, namun pemerintah tidak akan mengundang perusahan pembangkit listrik berskala besar dan mengajak perusahan pembangkit lokal untuk ikut serta di dalam lelang tersebut. Jika pembangkit dikerjakan oleh perusahaan di luar daerah tersebut, ia khawatir bisa terjadi konflik sosial di lokasi program ini.
Namun demikian, Said belum memiliki data terkait perusahaan pembangkit listrik lokal yang beroperasi di wilayah program. Maka dari itu, Kementerian ESDM akan mengadakan pertemuan dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) provinsi-provinsi Indonesia Timur untuk meminta data dan meninjau peluang bisnis ini.
"Kami sangat senang apabila lelang dilakukan terbatas, di mana hanya pengusaha lokal saja yang ikut serta. kami memang masih belum tahu kapan lelang ini bisa dilaksanakan, namun dalam waktu dekat kami akan menyasar Indonesia timur terlebih dahulu karena mereka yang paling membutuhkan listrik," tambahnya.
Program ini, sambung dia, merupakan pelengkap mega proyek 35 ribu Megawatt (MW) yang dicananakan pemerintah. Jika kedua program itu sukses, diharapkan rasio elektrifikasi Indonesia bisa meningkat dari saat ini sebesar 86 persen ke angka 97 persen. (bir)