Data terakhir BEI hingga Jumat (20/5) menunjukkan, rata-rata frekuensi transaksi saham harian mencapai 242.362 kali. Angka tersebut naik 9,3 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun tahun lalu, yang sebanyak 221.593 kali.
"Pada dasarnya kalau dilihat dari frekuensi saham sudah naik sekitar 5 persen lebih," ujar Direktur Utama BEI, Tito Sulistio di Jakarta, Senin (23/5).
Dia pun mengaitkan kenaikan frekuensi perdagangan tersebut dengan keputusan BEI memberlakukan lima satuan fraksi harga saham dari sebelumnya hanya tiga satuan fraksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tito mengatakan BEI perlu melakukan penyesuaian atas fraksi harga guna meningkatkan likuiditas dan kapitalisasi pasar, serta untuk meningkatkan daya saing bursa. Fraksi harga merupakan komponen struktur mikro pasar yang memiliki peranan penting dalam meningkatkan likuiditas saham.
"Dulu frekuensinya itu di bawah 10 ribu, naik 50 ribu, tahun kemarin sekitar 220 ribu. Kami ingin rata-rata transaksi frekuensi per hari di tahun ini 250 ribu lah," ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan mengatakan pelaku pasar akan lebih bergairah dalam melakukan transaksi perdagangan saham dengan diperbanyaknya fraksi harga saham. Ia menilai, jika pelaku pasar sudah menyesuaikan diri dengan hal ini, maka diharapkan likuiditas akan meningkat dan IHSG bakal terdongkrak.
“Likuiditas akan semakin bagus. Maka harapan kami harganya juga semakin menarik. Ketika bertambah jumlah omset dari transaksi harian bisa membuat pergerakan semakin aktif. Saya yakin indeks bisa mencapai level 5.000 kembali,” kata Haryajid. (ags/gen)