Asmawi Syam, Direktur Utama BRI menyebut, perusahaan telah merogoh kocek sebesar US$250 juta atau setara dengan Rp3,3 triliun (kurs Rp13.500) sebagai biaya investasi sejak awal satelit dirancang.
Lihat juga:BRI Revisi Naik Pertumbuhan Target Kredit |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama ini, kami sewa kira-kira 23 transponder dengan biaya Rp 500 miliar per tahun dan itu meningkat dari tahun ke tahun. Karena, supply dan demand selalu tidak berimbang. Setiap tahun tidak ada yang meluncurkan satelit, tetapi kebutuhan transponder meningkat setiap tahunnya," ujarnya, Selasa (31/5).
"Dengan kehadiran layanan BRIsat, perusahaan bisa memberikan pelayanan terbaiknya, baik kecepatannya maupun keakuratannya di kota maupun di desa," katanya.
Melalui BRIsat, BRI akan menyediakan layanan 45 transponder. Layanan ini nantinya terintegrasi dengan layanan ATM Bersama milik Himpunan Bank Negara (Himbara). Namun, layanan satelit ini baru berlaku di Indonesia saja. Belum menjangkau layanan BRI yang bercabang di luar negeri.
Yang pasti, menurut Asmawi, kehadiran transponder ini bisa meminimalisir gangguan jaringan di sekitar 11 ribu unit kantor perusahaan, 22 ribu ATM, serta 180 ribu Electronic Data Capture (EDC) milik BRI.
"Kami punya rencana buka ATM bersama, terkait ini mungkin, tetapi karena kami belum menetapkan service provider, sehingga kami belum bisa pastikan kapan sistem itu terintegrasi," pungkasnya. (bir)