Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo menuturkan, pemerintah dan bank sentral telah menyampaikan secara lengkap dan jelas mengenai kondisi perekonomian Indonesia, serta upaya reformasi struktural yang telah dan akan terus dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Agus, penilaian dan afirmasi peringkat kredit Indonesia merupakan hak independen dari setiap lembaga pemeringkat, tak terkecuali bagi S&P. Namun, ia menegaskan Indonesia secara konsisten telah melakukan berbagai upaya reformasi struktural untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang sehat, berkesinambungan dan inklusif.
Sebagai informasi, kemarin S&P mengafirmasi peringkat kredit Indonesia pada level 'BB+' dengan prospek positif. S&P masih enggan menaikkan peringkat Indonesia karena mempertimbangkan kinerja fiskal yang masih belum menunjukkan perbaikkan.
"Sayangnya, kinerja fiskal Indonesia tidak bisa membaik karena alasan struktural. Karena itu kami masih memberikan rating BB+ untuk peringkat utang negara jangka panjang dan B yang berjangka pendek,” tulis S&P dalam rilisnya, Rabu (1/6).
Menanggapi hal itu, Agus Martowardojo mengatakan pemerintah bersama-sama BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah berupaya maksimal menstimulus perekonomian dengan mengeluarkan serangkaian paket kebijakan.
Dari sisi fiskal, Mantan Menteri Keuangan itu menilai, upaya perbaikan penerimaan fiskal juga terus dilakukan pemerintah dengan tetap memperhatikan aspek kehati-hatian serta menjaga kestabilan makroekonomi dan finansial.
"Berbagai langkah upaya reformasi struktural dimaksud akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia dalam jangka menengah dan panjang. Sejauh ini Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara peer group,” tutur Agus.
Dari sisi moneter, lanjut Agus, sejumlah upaya telah dilakukan BI untuk meningkatkan ketahanan sektor eksternal. Pertama, dengan menerbitkan ketentuan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang luar negeri bagi korporasi non-bank.
Kemudian, lanjut Agus, BI juga menjaga pengelolaan nilai tukar yang fleksibel sejalan dengan nilai fundamentalnya, sambil memastikan tingkat kecukupan cadangan devisa memadai. Tak hanya itu, Otoritas Moeneter juga telah memitigasi risiko eksternal dengan menyiapkan baris pertahanan kedua (second line of defence). (ags)