Dalam rilis resminya, S&P mengapresiasi perbaikan kerangka fiskal yang dilakukan pemerintah. Langkah itu menurut S&P seharusnya bisa meningkatkan belanja sekaligus menggenjot penerimaan negara secara lebih terukur.
“Sayangnya, kinerja fiskal Indonesia tidak bisa membaik karena alasan struktural. Karena itu kami masih memberikan rating BB+ untuk peringkat utang negara jangka panjang dan B yang berjangka pendek,” bunyi keterangan resmi S&P, dikutip Rabu (1/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dengan catatan kinerja fiskal Indonesia membaik, seperti defisit anggaran yang berkurang dengan utang negara yang rendah,” kata rilis tersebut.
“Saat ini, (rating Indonesia) positif outlook sangat netral. Ada kesempatan untuk menaikkan sepertiga rating lebih tinggi tahun depan," tutur Curry di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rabu (11/5) lalu.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan Presiden Jokowi telah menyampaikan berbagai perbaikan yang dilakukan pemerintah kepada S&P. Salah satu perbaikannya adalah dengan percepatan pembangunan infrastruktur serta melanjutkan ekskusi proyek-proyek yang lama mangkrak.
Oleh karenya, Bambang optimistis S&P bakal menaikkan peringkat Indonesia menyamai dua lembaga pemeringkat internasional lain, Fitch dan Moody’s, yang telah lebih dulu memberikan peringkat layak investasi.
“Kalau misalkan kita mendapatkan peningkatan menjadi investment grade BBB-, maka otomatis akan lebih banyak investor yang akan masuk ke Indonesia, dan masuk ke instrumen keuangan yang ditawarkan Indonesia. Apakah itu di government bond, apakah di saham. Karena mereka melihat Indonesia sudah naik level,” ujarnya.