Hal ini mendorong PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk untuk mengevaluasi target pertumbuhannya yang tertuang dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) tahun ini. Maryono, Direktur Utama BTN mengatakan, manajemen akan melihat secara menyeluruh tren pelemahan permintaan kredit perbankan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kredit BTN didominasi oleh bisnis KPR. Untuk KPR bersubsidi, BTN menguasai 97 persen dari penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tahun lalu. Adapun, untuk program satu juta rumah, BTN telah merealisasikan 58.712 unit rumah. Total kredit yang disalurkan BTN untuk mendukung program ini mencapai Rp7,6 triliun.
"Jadi, tentu saja ini menjadi perhatian para pengelola industri keuangan untuk menjaga level kesiapan ya, misalnya sentimen bunga di Amerika Serikat. Ini sesuatu yang harus diantisipasi oleh pelaku industri keuangan nasional," tutur dia.
Namun demikian, ia optimistis, perbankan di Tanah Air mampu menyerap gejolak tersebut seiring dengan permodalan bank yang kuat.
Dari sisi otoritas moneter, Muliaman mengaku, mendukung upaya Bank Indonesia yang berniat melonggarkan kebijakan uang muka atau Loan to Value (LTV). Langkan ini sejalan dengan harapan pengusaha properti untuk mendorong pertumbuhan kredit properti.
"Saya kira, upaya BI melonggarkan kebijakan uang muka untuk mendorong pertumbuhan kredit lebih cepat, terutama di sektor properti. Kami sambut baik," terang Muliaman.
Muliaman juga tetap meminta agar kebijakan yang diterapkan BI tak berimbas negatif bagi industri perbankan. Salah satunya agar bank tetap menjaga rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tetap terjaga. (bir/gen)