Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi menjelaskan, sampai saat ini manajemen masih mencari lokasi alternatif yang lain sesuai kriteria yang dibutuhkan. Antara lain berjarak dekat dengan sumber pasokan minyak, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) yang tinggi di sekitar wilayah kilang, serta potensi ketahanan stok.
"Kami ada beberapa wilayah yang dipertimbangkan seperti Arun, di sana bisa memanfaatkan lahan fasilitas Liquefied Natural Gas (LNG) yang belum terpakai. Bisa juga kami tempatkan di Sumbawa karena itu merupakan lintasan giant tanker dari Indonesia Barat ke Timur," tutur Rahmad di Balikpapan, Kamis (9/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi kan kami belum tahu, apakah kilang itu akan diintegrasikan ke industri petrokimia apa tidak. Namun jika tidak ada integrasi, kira-kira nilai investasinya seperti itu," tuturnya.
Pada 2023 mendatang, kapasitas produksi seluruh kilang Pertamina akan menembus 2 juta barel per hari (bph) atau meningkat 1 juta bph dari posisi saat ini sebanyak 1,04 juta bph. Penambahan kapasitas tersebut berasal dari empat pengembangan kilang existing (Refinery Development Master Plan/RDMP) di Cilacap, Balongan, Balikpapan, dan Dumai serta pembangunan dua kilang baru di Bontang dan Tuban.
"Dan jika nanti ada produksi berlebih, kami bisa alokasikan untuk ekspor dengan pasar utama negara-negara ASEAN terlebih dahulu," jelasnya.
Sebagai informasi, kapasitas terpasang seluruh kilang Pertamina saat ini berjumlah 853 ribu bph, atau 81,78 persen dari kapasitas total sebesar 1,043 juta bph. Padahal, kebutuhan BBM masyarakat Indonesia tercatat sebesar 1,57 juta bph, sehingga BBM produksi dalam negeri baru memenuhi 54,05 persen dari total kebutuhan. (gen)