"Pertama itu soal izin impor truk bekas. Kedua, persaingan dengan truk bekas yang ditarik leasing," papar Harry.
Terkait izin impor truk bekas, Harry menilai bahwa izin ini dapat memberikan imbas menurunkan produksi dan penjualan truk dalam negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi, kalau datangkan truk bekas dari Jepang atau China begitu, ya bisa jalan tapi tidak tahan lama. Kebanyakan kasus saya lihat begitu. Karena spesifikasinya beda, misal ketahanan truk untuk kondisi jalan di Indonesia sama negara asalnya kan beda," ujar Harry.
Sedangkan tantangan kedua, Harry menyebutkan bahwa persaingan dengan truk bekas yang ditarik kembali oleh perusahaan pembiayaan (leasing) menghambat pertumbuhan penjualan truk baru pabrikan.
"Karena ekonomi lagi sulit, banyak yang ambil truk dari leasing kemudian tidak bisa bayar lagi. Ini membuat truk tersebut ditarik leasing lagi. Jadi, nanti ketika pasar butuh truk, ya, mereka bisa lebih memilih leasing dengan harga yang bisa lebih murah dibandingkan beli baru pabrikan," tutur Harry.
Untuk menghadapi hal ini, Harry menyatakan bahwa pihak leasing harus lebih cermat dalam memilih pelanggan. Isuzu menurutnya juga telah bekerja sama dengan beberapa leasing, dan memberikan referensi pelanggan. (gen)