Andrianus Bias, Analis Samuel Sekuritas menyebut akuisisi PGN oleh Pertamina akan berdampak negatif bagi PGN maupun negara. Pasalnya aksi tersebut bakal bakal berimbas negatif bagi neraca keuangan perusahaan berkode saham PGAS.
Andrianus mengatakan saat ini peringkat utang PGN dari Moody's adalah AAA (idn) dengan outlook stabil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut, membuat PGN yang sebelumnya mudah mendapatkan pinjaman, akan menjadi lebih sulit setelah berada di bawah Pertamina.
Sementara kerugian yang dialami negara dengan penggabungan tersebut, nantinya dividen yang dibayarkan PGN tidak lagi langsung ke kas negara, akan tetapi dikonsolidasikan sebagai laba Pertamina. Sehingga porsi yang akan masuk ke negara bisa lebih kecil dibandingkan PGN masih berstatus BUMN.
Namun, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto masih meyakini bahwa pembentukan holding migas perlu dilakukan untuk menjawab tantangan industri migas nasional. Dwi mencatat saat ini produksi Pertamina baru mencapai 26 persen dari total produksi nasional dan masih menjadi nett importer untuk 50 persen kebutuhan harian bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.
Dwi mengungkapkan hasil pengkajian mendalam yang dilakukan timnya, menyebutkan justru ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh Pertamina dan PGN dengan bergabung menjadi satu.
Dwi yang juga mantan bos PT Semen Indonesia Tbk, menuturkan pengalamannya memimpin pelaksanaan holding tiga perusahaan semen di Indonesia yang berhasil meningkatkan laba bersih perusahaan lebih dari sepuluh kali lipat setelah melakukan strategi holding.
“Ketika perusahaan ini berjalan sendiri-sendiri, total laba bersih dari perusahaan adalah Rp500 miliar. Tapi setelah kira-kira delapan tahun perusahaan ini melakukan holding, menghasilkan laba bersih sekitar Rp5,5 triliun. Jadi, lebih dari 10 kali peningkatan dalam kurun waktu delapan tahun,” jelasnya. (gen)