“Kami (Indonesia) akan menjadi bagian dari negara-negara di seluruh dunia yang pasti terkena dampak gejolak sistem keuangan dunia itu,” tutur Bambang, kemarin malam.
Kendati demikian, Bambang belum bisa memprediksi seberapa besar dampak Brexit terhadap keuangan global. Kemungkinan dampak Brexit terhadap Indonesia pun kecil. "Indonesia hanya satu bagian kecil dari sistem keuangan global," ucapnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Bambang memprediksi, kemungkinan Inggris tetap bergabung menjadi bagian dari Uni Eropa masih sangat besar. Mengingat, keuntungan yang diperoleh Inggris lebih besar ketimbang keluar dari Uni Eropa.
Robert Pakpahan, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu menduga, pasar keuangan pada pekan ini cemas menanti keputusan yang akan diambil oleh Inggris. Pasalnya, selama ini, risiko Brexit belum pernah terjadi dan diantisipasi oleh pasar.
Kecemasan pasar tercermin dari hasil penawaran lelang Surat Utang Negara (SUN) pekan ini yang mencapai Rp17,53 triliun dari target Rp12 triliun atau lebih rendah dari rata-rata penawaran lelang mingguan yang tembus Rp25 triliun. "Mungkin, salah satu penyebabnya itu (referendum Brexit)," imbuh Robert.
Menurut Robert, Brexit kemungkinan berdampak negatif pada nilai tukar rupiah di pasar keuangan dan indeks harga saham. Hal itu, dipicu oleh kepanikan pelaku pasar selama mencerna risiko yang belum pernah terjadi. Namun demikian, dampaknya diperkirakan hanya sementara.
Pun demikian, Robert mengaku, tak perlu terlalu khawatir atas risiko keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Toh, lelang obligasi berdenominasi euro untuk anggaran tahun ini telah dilakukan pemerintah beberapa waktu lalu dengan raupan 3 miliar euro. (bir/gen)