Darmin mengakui, Brexit akan mempengaruhi nilai kerja sama ekonomi Indonesia dengan Uni Eropa, mengingat Inggris adalah salah satu negara dengan skala ekonomi besar di Uni Eropa. Namun demikian, rencana kerja sama, khususnya perjanjian ekonomi Uni Eropa (European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement/EU CEPA) tetap berjalan sebagaimana mestinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melansir, realisasi investasi asal Inggris pada kuartal I 2016 tercatat sebesar US$ 54,87 juta atau menduduki peringkat ke-14 dari seluruh kontributor terbesar Penanaman Modal Asing (PMA) pada periode tersebut.
"Kalau Inggris masih masuk Uni Eropa, mungkin tidak banyak perubahan. Tetapi, kalau Inggris keluar, mungkin ada perubahan dan tentu semua orang akan menduga-duga dampaknya. Dampak langsungnya sih tidak kecil, namun dampak tidak langsungnya ini yang sulit untuk diukur," imbuh Darmin.
Inggris akan mengadakan referendum pada Kamis, (23/6), waktu setempat yang menentukan untuk keluar atau tidaknya keanggotaan Inggris dari Uni Eropa. Referendum ini dilakukan kembali setelah hasil referendum pertama tahun 1975 silam menyatakan Inggris masih tetap bergabung dengan Uni Eropa. (bir/gen)